Dahulu mbah Kawa Sangkin mempunyai 2 orang murid yaitu Wara Karti dan Buana Karti, mereka diajarkan menimba ilmu agama dan ilmu sosial mereka mempelajari Tsafawuf dari para ulama.
Setahun beberapa tahun mereka pergi mencari ilmu kemudian kembali lagi ketanah Jawa bersama dengan Syekh Abdul Khodir Jaelani,
Beliau memperkenalkan diri serta mengajak Buana Karti dan Wara Karti
untuk saling bekerja sama mengajarkan ajaran islam,namun mereka berdua
tidak menyambut baik ajakan itu, mereka seolah-olah yang lebih tahu,
lebih mengerti dan merasa yang paling pintar untuk menjadi Sunan disini
tanpa bantuan Syekh Abdul Khodir Jaelani,Beliau makin lama makin kecewa
pada buana karti dan wara karti,dan beliau meragukan persoalan ini pada
para wali akan perlakuan yang tidak pantas yang disampaikan Buana karti
dan Wara Karti ,dengan tujuan yang baik, namun Beliau tidak memperoleh
jawaban yang memuaskan malah sebaliknya tindakan yang dirasa sebagai
tindakan penginaan terhadapnya. maka para Wali mengambil keputusan yang
penuh intrik, dan para Walipun terlibat konflik dengan Buana dan Wara
Karti. Buana Karti aslinya orang Parean sedangkan Wara Karti aslinya
Orang Muntur, dan mereka melakukan penyerangan terhadap para Wali dan
Sunan Kalijaga Pun berserta dalam perang itu, namun usaha Buana dan Wara
sia-sia belaka, mereka berdua tidak dapat melumpuhkan para Wali dan
akhirnya mereka terpuruk dalam perselisihan, kendati
itu mereka melarikan diri ke Desa LOW dan
para Wali pun mengejarnya sampai keDesa Low. Mereka tidak dapat
ditemukan bahkan sangat sulit untuk ditemukan , Low berasal dari Bahasa
Belanda yang berarti Perlindungan.Para Wali pun memikirkan hal itu ,
mengapa setiap orang jahat yang masuk keDesa Low sulit sekali di deteksi
,sehingga Para Wali menamakan Desa Low menjadi desa LOWSARANG,sarangnya
orang-orang jahat mendapat perlindungan dan dari keselamatan yang
sekarang dinamakan LOSARANG.
sumber website : SMA Negeri 1 Losarang
ASAL - USUL DAERAH LOSARANG
Author: Unknown /MONUMEN KRESEK
Author: Unknown /Monumen Kresek, adalah monumen bersejarah yang merupakan peninggalan dan sebagai saksi atas Peristiwa Mediun Lokasi peninggalan sejarah dengan luas 2 hektar ini, berada 8 km ke arah timur dari kota Madiun dan terdiri dari monumen dan relief peninggalan sejarah tentang keganasan PKI pada tahun 1948 di Madiun. Adapun fasilitas wisata yang ada di tempat ini, antara lain,pendopo tempat istirahat, taman tanaman langka dan dilengkapi pula areal parkir.
Monumen yang terletak di kabupaten Madiun ini memang menjadi saksi bisu tragedi G 30 S PKI di Madiun, sebagai salah satu kota yang menjadi pusat PKI. Berbagai tragedi pernah terjadi di sini, mulai dari pembantaian, kemudian penguburan di sebuah sumur ( seperti lubang buaya ) namun saat ini tempat tersebut sudah berubah pemandangannya menjadi sebuah kunjungan wisata sejarah yang sangat bermanfaat bagi siapa pun.
PERISTIWA G30S/PKI
Author: Unknown /Gerakan 30 September/PKI
“Pantaskah
Soeharto Diampuni?”, Ada seorang ahli sejarah yang sempat meneliti
tentang kejadian yang menimpa bangsa kita di tahun 1965, mengatakan
bahwa di tahun 1965, di Indonesia hanya ada satu Jendral dan dia adalah
Mayjen TNI Soeharto. Menurut ahli sejarah itu juga termakan image yang
sengaja dibuat Soeharto bahwa dia adalah orang yang paling berjasa atas
dibubarkannya Partai yang kini dianggap sebagai partai terlarang di
negeri kita.
Soeharto adalah seorang prajurit TNI berpangkat
cukup tinggi dan juga memegang salah satu jabatan penting dalam jajaran
TNI sebagai Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad). Pada
masa kepemimpinan Ir. Soekarno, Soeharto adalah seorang perwira tinggi
yang tidak terlalu diperhitungkan. Itu juga menjadi penyebab tidak
terteranya nama Soeharto dalam daftar 7 jendral yang menjadi target
pembunuhan dalam pemberontakan PKI.
7 Jendral yang menjadi target operasi PKI:
1..Jendral
TNI Anumerta Ahmad Yani,
2.Letjen TNI Anumerta MT Haryono,
3.Letjen TNI
Anumerta S Parman,
4.Letjen TNI Anumerta Suprapto,
5.Mayjen TNI Anumerta
Sutoyo Siswomiharjo,
6.Mayjen TNI Anumerta DI Panjaitan,
7.Kapten Czi
Anumerta Pierre Tendean
Apa mungkin Soekarno lupa pada jasa
Soeharto yang menjadi arsitek Serangan Umum 1 Maret atas Kota Yogya yang
berhasil menguasai Kota Yogya selama 6 jam yang kala itu dikuasai oleh
Belanda? Ataukah Soekarno mengetahui fakta yang sebenarnya terjadi.
Pada tahun 1965 tepatnya pada tanggal 30 September 1965, sebuah pemberontakan terjadi atas keutuhan Pancasila (itu kata rezim Orde Baru) namun berhasil ditumpas sampai ke akar-akarnya oleh seorang perwira tinggi bernama Soeharto.
“Resolusi Dewan Jendral” yang sempat beberapa kali disebutkan dalam film tersebut, hal itu benar adanya. Resolusi Dewan Jendral memang ada. Beberapa orang Jendral pada saat itu sedang merencanakan untuk menggulingkan kekuasaan Soekarno dan mengambil alih kekuasaan.
Para pemimpin PKI kala itu cukup resah dengan adanya isu tentang resolusi Dewan Jendral. Mereka khawatir jika para jendral berhasil, maka posisi mereka berada di ujung tanduk. Untuk itu mereka harus bergerak cepat, berpacu dengan waktu untuk menumpas para jendral yang terlibat dalam Resolusi Dewan Jendral, sebelum para jedral mendahuluinya.
Rakyat yang kala itu masih bodoh dicekoki dengan pernyataan-pernyataan pedas tentang seberapa menyeramkan dan menyakitkannya sebuah pemberontakan. PKI terus menyebarkan doktrin bahwa pemberontakan itu identik dengan kekejaman. Rakyat akan semakin terkepung dalam kesengsaraan. Doktrin yang dilontarkan PKI itu terhadap rakyat itu pada akhirnya berhasil membakar darah rakyat yang kala itu tengah dirundung duka yang mendalam dan berkepanjangan akibat dari ketidak stabilan perekonomian di sebuah negara yang masih muda ini. Akhirnya PKI mendapat restu dari rakyat yang telah didoktrinnya untuk menumpas para jendral yang terlibat dalam Resolusi Dewan Jendral.
PKI sendiri mempunyai kepentingan dalam penumpasan ini. PKI adalah pendukung terkuat Soekarno, dan Soekarno adalah pendukung terkuat PKI demi sebuah image bagi dunia internasional bahwa Indonesia tidak mudah dimasuki pengaruh Amerika Serikat. Memang Sokarno lebih menyukai politik sosialis demokratik seperti yang diajarkan Uni Soviet kepada dunia kala itu yaitu pemerataan.
Karena PKI takut kehilangan dukungan dari presiden, maka PKI harus secepatnya menumpas Dewan Jendral sebelum Dewan Jendral menggulingkan Soekarno. Maka direncanakanlah sebuah aksi untuk menumpas Dewan Jendral. Akhirnya para pemimpin PKI sepakat tanggal yang tepat untuk melakukan aksi adalah pada tanggal 30 September.
Para pimimpin PKI melakukan rapat tentang aksi yang bakal mereka lakukan. Sedikitpun mereka tidak menyinggung nama Soeharto karena memang Soeharto kala itu bukan siapa-siapa. Dia tidak lain hanyalah seorang prajurit TNI berpangkat tinggi yang tidak diperhitungkan dan tidak penting sama sekali.
Disisi lain, Soeharto sendiri juga mengetahui tentang adanya resolusi Dewan Jendral dan mengetahui bahwa PKI akan melancarkan aksi untuk menumpasnya. Namun dia hanya diam. Soeharto juga memiliki kepentingan jika PKI berhasil. Kepentingan Soeharto sebenarnya adalah agar dia mulai dianggap penting dan kembali diperhitungkan di kancah percaturan negeri ini sehingga dia bisa mendapat jabatan yang lebih penting dari jabatan yang dia pegang saat itu. Dia biarkan PKI melakukan aksinya dengan membunuh para perwira tinggi TNI yang memang memegang jabatan penting di negara. Dengan demikian akan semakin berkurang saingan bagi Soeharto untuk meraih jabatan yang lebih tinggi dan lebih penting dari sekedar panglima Kostrad.
Tanggal 30 September pukul 4 pagi, diculiklah 7 jendral yang menjadi target operasi PKI. Mereka dibawa ke lubang buaya dan diserahkan kepada masa pendukung PKI yang telah berkumpul di sana sejak sore hari tanggal 29 September untuk diadili dengan cara mereka. Massa dibebaskan melakukan apa saja sesuka hati mereka kepada para jendral yang akan menambah kesengsaraan bagi rakyat tersebut. Massa yang berkumpul di lubang buaya berpesta pora sebelum akhirnya menyiksa hingga mati para jendral tersebut.
Fakta Dibalik G30S/PKI:
Pagi harinya, Soeharto yang telah mengetahui hal ini mendapat laporan dari beberapa ajudan jendral yang telah diculik. Soeharto hanya tersenyum dalam hati karena telah mengetahui bahwa semua ini akan terjadi. Ambisinya untuk menguasai negeri dengan pangkat dan jabatan yang dia miliki hanya tinggal selangkah lagi.
Tahukah anda apa sebenarnya yang telah direncanakan Soeharto sebelumnya yang disimpannya baik-baik dalam benaknya? Dia biarkan PKI membunuh ketujuh Jendral tersebut, lalu memfitnah PKI telah melakukan kudeta terhadap Soekarno sehingga orang-orang PKI yang mengetahui fakta sejarah dapat dengan mudah disingkirkan dengan cara difitnah. Doktrin yang dilontarkan Soeharto adalah bahwa PKI akan melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan Soekarno. Mungkinkah PKI akan menggulingkan pendukung terkuatnya? Tidak masuk akal. Ingat PKI dan Soekarno saling mendukung, apa mungkin PKI melakukan hal itu?
Pagi harinya Soeharto bergerak cepat dan melangkahi tugas beberapa orang jendral atasannya dengan memegang tampuk pimpinan TNI untuk sementara tanpa meminta restu dari Presiden. Di buku sejarahku waktu SD ditulis, “Mayjen TNI Soeharto dengan tangkas memegang tampuk pimpinan TNI yang lowong sepeninggal A Yani.” Kalau bisa dan boleh aku ingin mengedit tulisan di buku sejarahku dengan kata-kata, “dengan lancang Soeharto memegang tampuk pimpinan TNI.” Masih banyak orang yang harusnya dimintai restu oleh Soeharto atas inisiatifnya memegang tampuk pimpinan TNI.
Lalu dengan mudah Soeharto yang telah mengetahui semua seluk beluk aksi PKI ini menumpas PKI. Hanya dalam waktu beberapa jam saja, para pelaku pemberontakan PKI ditangkap dan sebagian lagi kabarnya melarikan diri ke luar negeri. Lalu Soeharto menyebarkan doktrin bahwa PKI telah melakukan kudeta terhadap kepemimpinan Soekarno. Padahal PKI bermaksud menggagalkan kudeta yang akan dilancarkan oleh para jendral tersebut. PKI dijadikan kambing hitam oleh Soeharto atas apa yang memang diinginkannya. Satu langkah Soeharto untuk menguasai negeri ini berhasil.
Penguasaan Kembali Gedung RRI Pusat:
Dini hari tanggal 1 Oktober 1965 Gerakan Tiga Puluh September (G30S) PKI menculik dan membunuh 6 orang perwira tinggi Angkatan Darat yang yang dinilai sebagai penghalang utama rencana mereka untuk merebut kekuasaan Negara. Pagi itu pula mereka berhasil menguasai Gedung RRI dan Gedung Pusat Telekomunikasi. Di bawah todongan pistol, seorang penyiar RRI dipaksa menyiarkan pengumuman yang menyatakan bahwa G-30-S telah menyelamatkan Negara dari usaha kudeta “Dewan Jendral”.
Tengah hari mereka mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam negara dan pendemisioneran kabinet.
Untuk menghentikan pengumuman-pengumuman yang menyesatkan rakyat itu, Panglima Komando Tindakan Strategi Angkatan Darat (Kostrad) Mayjen Soeharto yang telah mengambil alih sementara pimpinan Angkatan Darat memerintahkan pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) untuk membebaskan Gedung RRI Pusata dan Gedung Telekomunikasi dari penguasaan G-30-S PKI. Operasi yang dimulai pukul 18.30, dengan mengerahkan kekuatan satu kompi dalam waktu hanya 20 menit, RPKAD berhasil menguasai kembali gedung vital itu.
Pukul 20.00 tanggal 1 Oktober 1965 RRI Pusat sudah dapat menyiarkan pidato radio Mayjen Soeharto yang menjelaskan adanya usaha kudeta yang dilakukan oleh PKI melalui G-30-S
Penangkapan DN Aidit 22 November 1965:
Setelah G 30 S PKI mengalami kegagalan di Jakarta, pada tanggal 1 Oktober 1965 tengah malam ketua CC PKI D.N. Aidit melarikan diri ke Jawa Tengah yang merupakan basis utama PKI.
Tanggal 2 Oktober 1965 ia berada di Yogyakarta, kemudian berpindah-pindah tempat dari Yogyakarta ke Semarang. Selanjutnya ia ke Solo untuk menghindari operasi pengejaran yang dilakukan oleh RPKAD. Tempat persembunyiannya yang terakhir di sebuah rumah di kampung Sambeng Gede. Daerah ini merupakan basis Serikat Buruh Kereta Api (SBKA), organisasi massa yang bernaung dibawah PKI. Melalui operasi intelijen, tempat persembunyian D.N. Aidit dapat diketahui oleh ABRI.
Tengah malam tanggal 22 November 1965 pukul 01.30 rumah tersebut digrebek dan digeledah oleh anggota Komando Pelaksanaan Kuasa Perang (Pekuper) Surakarta. Penangkapan hampir gagal ketika pemilik rumah mengatakan bahwa D.N. Aidit telah meninggalkan rumahnya. Kecurigaan timbul setelah anggota Pekuper menemukan sandal yang masih baru, koper dan radio yang menandakan hadirnya seseorang yang lain di dalam rumah itu. Penggeledahan dilanjutkan. Dua orang Pekuper menemukan D.N. Aidit yang bersembunyi di balik lemari. Ia langsung ditangkap dan kemudian dibawa ke Markas Pekuper Surakarta di Loji Gandrung, Solo.
Supersemar:
Suasana negara saat itu benar-benar memburuk. Negara yang masih muda ini serasa berasa di titik paling bawah dari keterpurukannya. Perekonomian anjlok, harga bahan pangan menjulang, bahan pangan susah didapat dimana-mana, kerusuhan pecah di seluruh wilayah negeri ini. Beberapa elemen masyarakat melakukan aksi yang berbuntut dengan dicetuskannya Tritura (Tri Tuntutan Rakyat). Isi Tritura adalah:
1. Bubarkan PKI
2. Turunkan Harga
3. Bersihkan kabinet dari unsur-unsur G 30 S PKI
Aksi beberapa elemen masyarakat ini di awali dengan aksi yang digelar oleh mahasiswa yang menamakan dirinya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Gerakan mahasiswa ini juga diikuti oleh elemen masyarakat lain seperti Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), dan lain-lain.Aksi-aksi inilah yang kemudian memicu pecahnya revolusi di negara ini. Semakin lama situasi negara semakin memburuk.
Situasi ini akhirnya yang memaksa tiga orang Jendral yaitu Letjen (yang baru naik pangkatnya) Soeharto, Brigjen Amir Machmud dan Brigjen M Yusuf untuk menemui presiden dan memaksa presiden agar segera memenuhi tuntutan rakyat. Tritura harus dipenuhi jika presiden ingin mengembalikan situasi negara ke arah yang kondusif.
Soekarno menolak memenuhi tuntutan rakyat. Soekarno tahu bahwa ini semua hanya kerjaan Soeharto yang memfitnah PKI sebagai pemberontak. Soekarno tahu betul, tidak mungkin PKI berkeinginan untuk menggulingkannya namun Soekarno tidak memiliki bukti yang otentik atas pernyataannya tersebut. Soekarno tahu bahwa aksi yang dilakukan oleh PKI dengan nama G 30 S PKI hanya bertujuan untuk menumpas rencana kudeta militer yang akan dilakukan oleh sekelompok perwira tinggi yang menamakan dirinya Dewan Jendral.
Setelah gagal untuk memaksa presiden memenuhi tuntutan rakyat, ketiga jendral tersebut berinisiatif membuat sebuah surat perintah atas nama presiden. Isi surat perintah yang diberi nama Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) hingga kini hanya diketahui oleh hanya 4 orang, ketiga jendral tersebut dan Soekarno, namun karena tiga diantaranya kini telah meninggal dunia, maka kini hanya tertinggal satu lagi saksi sejarah yaitu Soeharto. Sayang, Soeharto pun tidak ingin rakyat Indonesia tahu apa isinya, maka dia lenyapkan supersemar yang asli dan buat sebuah surat perintah yang palsu seperti yang kita tahu belakangan ini.
Teks Supersemar yang palsu, sedangkan yang asli, hingga kini tidak ditemukan bangkainya Supersemar yang telah rampung dibuat diserahkan kepada Soekarno untuk ditandatangani, namun Soekarno menolak untuk menandatanganinya. Soekarno tidak mau membubarkan PKI namun juga tidak mempunyai alasan yang kuat atas kehendaknya tidak ingin membubarkan PKI. Sementara rakyat telah didoktrin oleh Soeharto bahwa PKI telah melakukan pengkhiatan terhadap negara dan ingin menguasai negara ini dan menjadikannya negara berfaham Komunis.
Menurut pengakuan dari seorang kakek tua tak lama setelah Soeharto lengser, bahwa dulu ia bekerja di Istana Merdeka. Tugasnya adalah mengantarkan minuman buat presiden. Pada saat ketiga jenderal itu sedang berada di ruang kerja presiden, sang kakek memasuki ruangan dengan maksud ingin mengantarkan minuman bagi presiden dan ketiga tamunya. Terkejutlah ia saat melihat presiden sedang menandatangani sebuah surat yang diyakininya sebagai supersemar di bawah todongan Pistol.
Pada saat sang kakek mengungkapkan kisah ini, Jendral M Yusuf masih hidup, maka ia diwawancarai oleh kru TV sehubungan dengan pernyataan sang kakek. Karena M Yusuf berada pada posisi netral maka ia yang diwawancarai. Tapi sayang, saya sangat yakin bahwa fakta yang diungkapkan sang kekek benar adanya, tapi demi menyelamatkan sejarah yang sudah terputar balik dan tak mungkin diubah lagi, maka Jenderal M Yusuf membantah bahwa presiden menandatangani supersemar di bawah todongan pistol. Tapi saya yakin dan sangat percaya, Jendral M Yusuf yang kala itu sudah pensiun membantah hal itu karena ia sadar, jika ia bongkar rahasia ini, maka terbongkarlah semua fakta sejarah dan Indonesia kembali terombang ambing dalam keraguan. Mana yang benar? Sejarah versi Soeharto atau M Yusuf.
Akhirnya supersemar ditandatangani oleh Soekarno, namun supersemar tidak ditujukan kepada Soeharto. Hal ini membuat Soeharto panas, entah dengan cara apa, Soeharto berhasil melenyapkan surat itu dan membuat pernyataan palsu dengan mengatakan bahwa supersemar ditujukan kepadanya untuk memegang tampuk pimpinan TNI untuk sementara dan mengembalikan stabilitas nasional.
Dua langkah Soeharto berhasil. Maka berpedoman pada surat perintah palsu yang dibuat oleh Soeharto sendiri, ia mulai bergerak dan membubarkan PKI serta antek-anteknya. Sebagian besar masa pendukung PKI, Gerwani dan berbagai organisasi massa lain bentukan PKI dibantai secara masal, sebagian lagi dipenjara. Ini dilakukan untuk menghilangkan jejak sejarah agar semua kebusukan yang dilakukan oleh Soeharto tidak terungkap. PKI dijadikan kambing hitam karena memang PKI pernah melakukan percobaan kudeta di tahun 1948. Ini dijadikan alasan bagi Soeharto untuk semakin menjatuhkan PKI.
Setelah PKI dibubarkan, dengan wewenang palsunya Soeharto menyatakan bahwa PKI adalah Partai terlarang di Indonesia karena bertentangan dengan Pancasila yang merupakan ideologi bangsa Indonesia.
Pidato pertanggungjawaban Soekarno dalam Sidang Umum MPRS tahun 1968 ditolak oleh MPRS. Semua dipicu dari lambatnya Soekarno membubarkan PKI dan menjawab Tritura. Setelah itu dipilihlah seorang penjabat presiden hingga masa kepemimpinan Soekarno berakhir. Pada saat itu memang tak ada pilihan lain, Soeharto menjadi satu-satunya orang yang paling pantas memegang jabatan itu. Soekarno (mungkin dengan berat hati) menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada Soeharto. Sejak saat itu Soeharto resmi memegang jabatan sebagai Presiden RI melaui TAP MPRS No XLIV/MPRS/1968 dan berkuasa selama 32 tahun hingga akhirnya digulingkan juga dengan cara yang sama seperti ia berusaha menggulingkan Soekarno pada tahun 1968.
Sumber : http://infobocor.blogspot.com/2013/08/sejarah-sebenarnya-peristiwa-g30spki.html
PERJUANGAN M.A SENTOT INDRAMAYU
Author: Unknown /Indramayu di Awal Masa Kemerdekaan Republik Indonesia
Sebelum
pasukan militer Indonesia terbentuk seperti sekarang ini, para
putera-puteri terbaik tanah air pernah mengalami berbagai pertempuran
dan kondisi yang penuh tantangan, khususnya di awal masa kemerdekaan.
Di setiap wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia terjadi
pertempuran dengan pasukan-pasukan Belanda yang memang ingin menjajah
kembali Republik Indonesia. Mereka, pasukan kerajaan Belanda menyadari
betul bahwa menjajah bangsa lain itu menyenangkan, membuat mereka
semakin kaya dengan hasil bumi.
Di lain pihak secara perlahan-lahan
di kalangan bangsa Indonesia timbul kesadaran bahwa dijajah itu hina,
tidak menyenangkan, dan perlu melawan. Itulah sebabnya sejak Jepang
menggembar-gemborkan patriotisme Asia Raya dan harus mengusir
kedatangan bangsa-bangsa Eropa dari daratan Asia, maka patriotisme para
pemuda Indonesia bangkit. Mereka tidak saja menentang penjajahan
Belanda, namun juga menentang kehadiran pendudukan Jepang itu sendiri.
Upaya
menentang penjajah itu terjadi di banyak daerah, termasuk Indramayu.
Dalam kenyataannya perlawanan masyarakat Indramayu terhadap tentara
pendudukan Jepang dipelopori oleh beberapa orang pemuka agama. Hal ini
merupakan sesuatu yang wajar, sebab dalam ajaran agama terdapat
nilai-nilai patriotisme dan keharusan mengusir musuh yang hendak
menjajah dari tanah kelahiran.
Saat itulah di Indramayu muncul
pejuang-pejuang yang menentang pendudukan Jepang seperti H. Ilyas, H.
Durahman, dll. Pemberontakan yang dilakukan oleh para pemuka agama ini
cukup menyulitkan tentara pendudukan Jepang. Namun demikian
pemberontakan tetap bisa dipadamkan karena Jepang mampu merekrut para
penjilat yang mau mereka suapi demi kepentingan Jepang. Di kemudian
hari, keberanian penduduk Indramayu untuk menentang penjajah dan
tentara pendudukan Jepang dinilai sangat berani sehingga membuat
pemberontakan di Indramayu sama terkenalnya seperti pemberontakan
Tasikmalaya (peristiwa Singaparna), Cimahi, Blitar, dan yang lainnya.
Keberanian rakyat Indramayu, Singaparna, Cimahi, dan Blitar ini
diungkapkan dalam Pidato penuh patriotisme Presiden Sukarno di tahun
1948.
Kondisi Kemiliteran di Indramayu Tahun 1945-1946
Seiring
dengan telah diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia maka
berbagai bentuk sistem pertanahan dibentuk. Hal tersebut terjadi pula
di Indramayu yang mengalami memiliki BKR, TKR, sampai akhirnya TNI.2
Dalam sejarah militer diketahui bahwa di akhir tahun 1946 di Jawa Barat
telah terbentuk Resimen 12 Divisi IV Siliwangi yang dipimpin oleh
Kolonel Sapari. Resimen ini berkedudukan di Cirebon.
Untuk
memantapkan operasinya, Resimen 12 memiliki 6 (enam) Batalyon dan 1
(satu) Detasemen. Personal pimpinan dari komponen organisasi tersebut
terdiri dari:
- Mayor Suwardi sebagai Dan Yon I yang berkedudukan di Cirebon,
- Mayor Sujana sebagai Dan Yon II yang berkedudukan di Kedung Bunder,
- Mayor Ribut sebagai Dan Yon III yang berkedudukan di Sindanglaut,
- Mayor U. Rukman sebagai Dan Yon IV yang berkedudukan di Kuningan,
- Mayor D. Affandi sebagai Dan Yon V yang berkedudukan di Majalengka,
- Mayor Sangun sebagai Dan Yon VI yang berkedudukan di Indramayu.
Pada
saat itu M.A. Sentot yang dikenal telah banyak berjasa sebagai Komandan
BKR di Kandanghaur dengan pangkat Letnan Satu ditempatkan di Majalenga.
Beliau yang sudah berpengalaman sebagai Komandan Kompi TKR di Kecamatan
Anjatan, terpilih menjadi salah seorang Komandan Kompi dari Batalyon V.
Di Indramayu sendiri, pada saat itu selain pasukan resmi Republik telah
ada badan-badan kelaskaran lainnya seperti Hisbulloh, Laska Rakyat,
Pesindo, dll. Meskipun banyak personal pertahanan yang ada di Indramayu
namun dari sisi persenjataan jumlahnya sangat kurang. Kebanyakan
persenjataan berada di Cirebon.
Datang Dua per Dua untuk Bernegosiasi
Menurut penuturan pak Kartem,
pasukan gerilyawan pimpinan M.A. Sentot memasuki kampung Waledan dan
Kujang untuk mencari tempat yang strategis sebagai markas dalam rangka
mengganggu pasukan-pasukan Belanda yang berkedudukan di pusat kota
Indramayu dan sekitarnya. (Wawancara terhadap pak Kartem dilakukam pada
Minggu 15 Juni 2008 di rumahnya, kampung Kujang, Cantigi. Menurut
masyarakat setempat, pak Kartem merupakan satu-satunya orang tua
sekaligus saksi mata perjuangan pasukan setan yang masih hidup saat
kampung Waledan dan Kujang dijadikan markas pasukan pimpinan M.A.
Sentot).
Pasukan petintis (bagian dari pasukan M.A. Sentot) semula
datang berdua mendekati penduduk setempat bernama Kartem. Keduanya
memohon kesediaan warga kampung Waledan dan kampung Kujang agar
daerahnya digunakan sebagai markas pasukan M.A. Sentot. Saat diskusi
berlangsung, bermunculanlah dua orang-dua orang anggota pasukan M.A.
Sentot memasuki kampung itu. Mereka membantu anggota pasukan lainnya
yang datang terdahulu untuk melakukan negosiasi agar bisa bermarkas di
situ.
Setelah berdiskusi dengan tamu, yang ternyata pasukan perintis
dari kesatuan pimpinan M.A. Sentot, para ketua kampung menyetujui
daerah mereka dijadikan markas pasukan gerilyawan. Sejak saat itulah,
selama tiga tahun, seluruh isi kampung menjadi tempat beristirahat,
makan, minum, pijit, menyusun strategi, dan basis penyerangan untuk
mengganggu kesatuan-kesatuan Belanda yang ada di kota Indramayu dan
sekitarnya.
Jika bukan kepada penduduk, memang, kepada siapa lagi
para gerilyawan pejuang perang kemerdekaan ini akan menggabungkan diri.
Manunggalnya tentara dengan rakyat sangat dirasakan perlu dan
pentingnya pada saat itu. Hal ini terjadi secara sangat kebetulan dan
waktu yang mendesak. Saat itu, sekitar tanggal 21 Juli 1947,
pasukan-pasukan Belanda yang terobsesi untuk merebut kembali Indonesia
yang telah menyatakan merdeka agar kembali ke pangkuan mereka,
melancarkan agresinya yang pertama. Sebuah agresi yang terang-terangan
melanggar Perjanjian Linggarjati. Salah satu butir dari perjanjian itu
adalah kedua belah pihak tidak boleh saling serang-menyerang.
Agresi
Belanda yang pertama ini dilakukan dengan kondisi pasukan mereka yang
prima, bersenjata lengkap dan canggih, sehingga dalam waktu sangat
singkat mampu membuat satu per satu kota-kota Kabupaten di Jawa Barat
jatuh ke tangan mereka. Akibatnya, banyak kesatuan-kesatuan tentara
Republik Indonesia, dan kelaskaran lainnya mengundurkan diri ke
hutan-hutan dan kampung-kampung. Di Indramayu hal itu pun terjadi.
Pasukan-pasukan Republik Indonesia dan kelaskaran lainnya memasuki
Kampung Waledan dan Kujang untuk berlindung dari gempuran-gempuran
tentara-tentara Belanda.
Markas PS yang Strategis di Kampung Waledan dan Kujang
Mundurnya
banyak kesatuan tentara dan kelaskaran lainnya ke kampung-kampung bukan
berarti pemerintahan Republik Indonesia yang baru merdeka bertekuk
lutut kepada Pemerintah Kerajaan Belanda, melainkan hanya sebuah
strategi perang. Di kemudian hari strategi ini dikenal sebagai strategi
perang gerilya. Dalam keadaan tercerai-berai oleh serbuan membabi buta
pasukan Belanda, para tentara, mantan tentara, dan anggota kelaskaran
lainnya melakukan konsolidasi secara diam-diam. Setelah itu mereka
melanjutkan perlawanan. Salah satu gabungan para pejuang yang berasal
dari tentara dan kelaskaran lainnya adalah gabungan yang bernama
Pasukan Setan (PS).
Menurut keterangan Bapak S. Soedimantoro (pada 7
Desember 1983) kedatangan M.A. Sentot dan kawan-kawan ke Kampung
Waledan dan Kujang terjadi akibat gempuran hebat tentara Belanda di
wilayah Indramayu Barat. Untuk memperoleh kepercayaan dan dukungan dari
rakyat Indramayu, maka harus diperlihatkan kepada rakyat bahwa pasukan
tentara bersenjata Republik Indonesia masih ada dan masih kuat
bertempur. Itulah sebabnya, operasi secara berpindah tempat dilakukan
sampai ke Indramayu bagian Barat yang berbatasan dengan Kabupaten
Subang. Pertempuran-pertempuran hebat pun terjadi seperti di Desa
Larangan, Bugel, Anjatan, dan terakhir di Kampung Kopyah. Setelah
dianggap cukup memperlihatkan gerakan di wilayah Barat, pasukan ditarik
lagi ke arah utara.
Pasukan gerilyawan bergerak melalui jalan laut
agar tak terlihat oleh tentara-tentara Belanda. Pada malam hari, mereka
menggunakan perahu-perahu nelayan dari Muara Desa Patrol menyusuri
pantai utara hingga akhirnya medarat di Kampung Waledan dan Kampung
Kujang Desa Lamarantarung.
Selain menjadikan kedua kampung tersebut
sebagai markas, M.A. Sentot pun segera mengadakan penertiban dalam
tubuh pasukannya. Hal itu dilakukan karena personal yang berkumpul di
Kampung Waledan dan Kujang sangat beragam. Menurut keterangan Bapak S.
Soedimantoro, komposisi pasukan disusun sebagai berikut:
Kepala Pasukan : Bapak M.A. Sentot
Ajudan/Pimpinan Staf : Bapak S. Soedimantoro
Koordinator Pertahanan : Bapak Tirtaatmaja
Koordinator Politik : Bapak R. Akhmad
Koordinator Pertahanan Rakyat : Bapak Lili Sopandi
Kepala Regu I : Bapak Husen
Kepala Regu II : Bapak Sujogo
Kepala Regu III : Bapak Hasan
Kepala Regu ALRI Buaya Buas : Bapak Ali Runajaya
Kepala Regu Istimewa (yang terdi-
ri dari para Bromocorah) : Bapak Sutara
Komposisi
pasukan seperti itu jelas rawan akan berbagai gangguan dan
pengkhianatan. Beruntunglah ada surat dari U. Rukman (pimpinan Batalyon
Rukman yang berpusat di Kuningan) selaku Komandan Komando Gerilya.
Surat yang dikirim oleh kurir bernama Tasman itu menjelaskan bahwa
perjuangan sudah berubah bukan lagi perjuangan Tentara Nasional
Indonesia (TNI) melainkan perjuangan rakyat Indonesia secara
keseluruhan. Itulah sebabnya segala sebutan atau istilah yang bernuansa
militer seperti pangkat dan jabatan untuk sementara ditanggalkan.
Setelah hal itu dilakukan, maka komposisi pasukan menjadi solid dan
mampu melakukan gangguan kepada pihak Belanda secara signifikan.
Setiap
siang hari seluruh pasukan setan pimpinan M.A. Sentot beristirahat,
kebanyakan tidur. Tempat tidur mereka di mana saja. M.A. Sentot sendiri
sebagai komandan tak memiliki tempat tidur khusus. Setelah malam tiba,
barulah mereka meninggalkan kampung dan pergi ke kota untuk mengganggu
kedudukan pasukan-pasukan Belanda. Kemunculan para gerilyawan sekitar
jam tiga atau empat pagi, sangat mengganggu kondisi Belanda. Mereka
muncul secara tiba-tiba dan melakukan serangan. Setelah itu mereka
menghilang kembali ke hutan. Sejak saat itulah mereka menamakan diri
Pasukan Setan (PS). Seperti setan, mereka bisa muncul kapan saja dan di
mana saja, menyerang lalu menghilang.
Konsolidasi pasukan dari
berbagai kesatuan dan kelaskaran diperkuat oleh pernyataan pak Kartem,
yang menyebutkan bahwa pasukan yang berkumpul di kampung Waledan dan
Kujang sebenarnya merupakan pasukan gabungan. Disebut gabungan karena
semua pasukan aliran apapun berkumpul di kampung itu. Tak hanya pasukan
yang baik-baik, tetapi juga para pencoleng direkrut untuk membantu
gerilyawan. Lama kelamaan mereka yang semula berperilaku menyimpang
pun, yang tak tahu-menahu kondisi negara, setelah mendengar dan
menyaksikan sendiri tembakan-tembakan senjata milik pasukan Belanda
menghancurkan aset-aset bangsanya, akhirnya berubah. Jiwa ksatria
muncul untuk melawan penjajah dan menyalurkan keberaniannya untuk
menyerang Belanda. Dengan bergabungnya mereka, maka sepak terjang
pasukan setan semakin menjadi-jadi. Pada siang hari kondisinya sepi,
namun malam hari ’setan-setan’ pasukan gerilyawan muncul menyerang
aset-aset Belanda yang ada di kota-kota. Pagi harinya, pasukan kembali
ke markas di kampung Waledan dan Kujang.
Sebegitu jauh, kampung
Waledan dan Kujang sebenarnya bukan menjadi markas satu-satunya sebab
secara organisasi dan operasional, pasukan setan bertugas menyerang,
menghadang, lantas menghilang. Jadi mereka bergerak tanpa memiliki Pos
Komando yang tetap. Justru dengan sifatnya yang seperti itulah pasukan
setan menjadi pasukan yang sangat ditakuti musuh dan disegani
kawan-kawan seperjuangan. Pasukan ini menjadi idola dan kebanggaan
masyarakat Indramayu.
Gerakan Pasukan Setan Melawan Belanda
Agresi
militer Belanda untuk merebut kembali kekuasaan di Indonesia dilakukan
secara terencana dan dukungan persenjataan militer terlengkap dan
tercanggih saat itu. Pada saat itulah pertempuran perang kemerdekaan di
Indramayu bergolak sebab rakyat Indramayu khususnya, dan Indonesia pada
umumnya, sudah tak sudi lagi hidup dalam cengkeraman penjajah.
Dalam
proses pertempuran perang mempertahankan kemerdekaan itulah muncul
Pasukan Setan (PS) pimpinan M.A. Sentot. Menurut keterangan pak
Darsimah pasukan pimpinan M.A. Sentot disebut pasukan setan sebab
seluruh anggota pasukannya bisa menghilang. (Pak Darsimah merupakan
teman seperjuangan M.A. Sentot. Lebih dari sekadar teman, beliau juga
merupakan pengasuh Sentot sejak kecil, dan mengabdi kepada keluarga
orangtua M.A. Sentot). Konon, anggota pasukan setan ini memiliki
kekuatan dan kesaktian yang luar biasa sehingga selalu lolos dalam
kepungan pasukan Belanda. Sekali waktu datang menyerang dan setelah itu
langsung menghilang. Mereka menghilang tapi tidak kembali ke markas,
sehingga sulit dilacak oleh Belanda. Pasukan ini sungguh menjadi
fenomena. Anggota mereka yang hanya belasan orang tetapi sanggup
mengobrak-abrik kantong-kantong kekuasaan Belanda. Simbol atau lambang
pasukan ini sangat menyeramkan, yaitu berupa gambar tengkorak manusia
yang diberi tanda silang di bawahnya dalam bendera berwarna dasar
merah. Di bawah gambar tengkorak terdapat tulisan P.S. yang merupakan
singkatan dari Pasukan Setan.
M.A. Sentot sebagai mantan Shodantyo
di tahun 1943 yang merupakan hasil didikan keras para prajurit Jepang
di tahun 1945 sudah berpangkat Letnan Satu. Setelah selama dua tahun
berjuang di Majalengka (1945-1946) memilih untuk pindah ke Indramayu.
Di
Indramayu, Letnan Satu M.A. Sentot membentuk pasukan sendiri
beranggotakan orang-orang pilihannya. Inilah cikal bakal pasukan setan
yang menjadi ’hantu’ menakutkan bagi para serdadu Belanda. Betapa
tidak, meskipun tentara Belanda dibekali persenjataan yang lengkap
namun bisa kocar-kacir oleh ulah pasukan setan yang hanya bersenjatakan
senjata rampasan. Sebuah pasukan kecil yang justru sering menimbulkan
kerugian besar di pihak Belanda.
Menurut keterangan Bapak S.
Soedimantoro, komposisi pasukan bentukan M.A. Sentot yang berasal dari
berbagai sumber kekuatan rakyat telah melakukan perlawanan sangat
heroik. Asrama tentara Belanda yang berkedudukan di Desa Penganjang,
misalnya merupakan lokasi yang jelas sangat mudah untuk diserang.
Sayang sekali, dalam penyerangan ke markas tentara Belanda ini, telapak
kaki Bapak Sutara (pimpinan pasukan Istimewa) cedera. Telapak kaki
beliau belah akibat senjata pelontar granat buatan Jepang (pasukan
tentara saat itu menyebutnya dengan istilah Teki Danto) yang
digunakannya posisi dasarnya meleset saat dioperasikan sehingga
mengenai telapak kaki Bapak Sutara. Kondisi ini tidak begitu
mengganggu. Justru pasukan Istimewa ini semakin meraja-lela dengan
melakukan serangan-serangan ke dalam kota.
Pada saat itu, untuk
melindungi markas utama di Kampung Waledan dan Kujang, maka desa-desa
di sekitarnya dijadikan garis depan penyerangan (front) terhadap
tentara-tentara Belanda. Front yang dikuasai pasukan gerilya itu
terdiri dari Desa Arahan, Gandok, Cabang, dan Pecuk. Dengan demikian
Waledan dan Kujang tetap aman dan terkendali sebagai Pos Komando.
Meskipun
telah membentuk front-front perlawanan, bukan jaminan bahwa Pos Komando
di Waledan dan Kujang akan aman. Perhitungan M.A. Sentot secara militer
mengatakan bahwa bisa saja tentara-tentara Belanda menyebarkan
mata-matanya hingga ke pedalaman Kampung Waledan dan Kujang. Itulah
sebabnya pasukan mata-mata tandingan pun dilakukan. Akibatnya setiap
hari terjadi pertempuran yang misterius antara mata-mata Belanda dan
mata-mata pihak Republik Indonesia. Dalam peristiwa inilah Bapak
Wargana, dari pihak pasukan Republik, gugur.
Penyerangan Konvoi Belanda di Jembatan Bankir
Pasukan
Setan memang gesit dan cepat menghilang. Salah satu aksi yang dilakukan
pasukan ini adalah menghadang konvoi tentara Belanda di jembatan
Bankir. Dalam pertempuran ini pihak Pasukan Setan menewaskan 40 tentara
Belanda dan merampas semua persenjataan mereka. Peristiwa ini sangat
terkenal dan membuat pimpinan tentara Belanda harus menyusun kembali
rencana perang mereka.
Keberhasilan penyerangan konvoi Belanda di
jembatan Bankir pada November 1947 ini merupakan sebuah hasil dari
penyerangan yang terencana. Sebelumnya, Pasukan M.A. Sentot terlebih
dulu telah mendapat bantuan senjata dari Polisi Belanda yang berada
dibawah pimpinan Suhad, yang menggabungkan diri dengan pasukan Republik
Indonesia, di desa Anjatan. Dengan diperolehnya bantuan senjata ini,
maka diadakan Iagi penghadangan di desa Kopyah dengan tujuan untuk
menyelamatkan tawanan-tawanan yang akan dibawa Belanda ke Haurgeulis.
Tawanan-tawanan tersebut akhirnya dapat diselamatkan. Sementara itu
tentara Belanda kocar-kacir, meninggalkan banyak korban.
Modal
kemenangan dari penghadangan di berbagai tempat membuat pasukan
gerilyawan semakin berani dan percaya diri. Dari rasa percaya diri
itulah direncanakan melumpuhkan konvoi tentara Belanda di jembatan
Bangkir pada akhir bulan Novembar 1947. Pada sekitar jam 05.00 pagi
pasukan gerilya telah disiapkan untuk mengadakan operasi di sekitar
jembatan Bangkir. Sementara itu rakyat di sekitarnya diungsikan ke
desa-desa jang diperkirakan lebih aman. Setelah lama menunggu barulah
sekitar jam 09.00 terdengar suara truck yang ternyata bukan truck
militer Be¬landa. Truck preman yang dikawal oleh dua orang Polisi
Pasundan tersebut tidak diganggu-ganggu untuk menjaga jangan sampai
rencana itu bocor.
Sekitar jam 11.00 barulah ada kode dari Pos
Peninjau yang memberi isyarat bahwa konvoi Militer Belanda jang
didahului oleh Bren-Carrier akan melintasi jembatan Bangkir dari arah
Indramayu. Pasukan yang semula kaget melihat banyaknya tentara Belanda
bangkit kembali semangatnya setelah M.A. Sentot memberi komando untuk
melakukan tembakan. Dari jarak hanya 30 meter pasukan M.A. Sentot
menembaki pasukan Belanda. Kopral Dali, seorang penembak bren, berhasil
melumpuhkan Bren-Carrier beserta pengemudinya. Jumlah kerugian Belanda
tak terkira, sebab seluruh peleton prajurit yang konvoi berikut satu
mobil palang merah Belanda dapat dihancurkan. Pertempuran yang
berlangsung sekitar tiga jam itu berakhir sekitar jam 14.00.
Dalam
peristiwa ini dua orang tentara Belanda berhasil lolos. Namun dalam
upaya menyelamatkan diri ke kota Indramayu yang berjarak sekitar 10
kilo meter, mereka tertangkap oleh rakyat dan akhirnya dibunuh. Di
kemudian hari diketahui bahwa salah seorang dari dua tentara yang
dibunuh rakyat ini merupakan dokter berpangkat Mayor. Sementara itu
dari pihak pasukan M.A. Sentot gugur satu orang bernama Salim.
Di
akhir pertempuran, ketika Pasukan Setan pimpinan M.A. Sentot hendak
mengumpulkan senjata-senjata hasil rampasan, tiba-tiba bantuan tentara
Belanda dari kota Indramayu datang dalam jumlah sangat besar. Mengingat
kondisi pasukan cukup lelah, maka M.A. Sentot memutuskan untuk tidak
melawan pasukan bantuan tersebut. Para prajurit Pasukan Setan memilih
mengundurkan diri ke markas mereka di Kampung Waledan dan Kujang. Pada
saat mengundurkan diri inilah dua orang anggota pasukan M.A. Sentot
gugur, yaitu Murah Nara dan Basuki. Keduanya tersesat dalam proses
pengunduran diri sebab tidak begitu paham lokasi markas. Konon Murah
Nara merupakan pemuda asal Karawang yang memilih berperang melawan
tentara Belanda di Indramayu. Dalam posisi tersesat itulah keduanya
dihadang tentara Belanda yang datang dari arah Jatibarang. Tembakan
gencar dari tentara Belanda membuat kedua pejuang ini gugur.
Berapa kerugian yang diderita penduduk akibat serangan itu? Sungguh tak
ternilai. Setelah penyerangan, para gerilyawan dan penduduk yang
mengungsi, kembali ke rumahnya masing-masing. Mereka mendapati bahwa
selain menyerang tentara-tentara Belanda yang dibantu rakyat itu
ternyata membawa habis terasi-terasi yang sudah jadi dan siap dijual.
Sebagian terasi mereka bakar. Terasi-terasi, pada saat itu merupakan
bahan yang berharga karena akan dijual secara barter ke daerah lain
untuk ditukar dengan bahan makanan lain yang sangat diperlukan dan
tidak bisa diproduksi di wilayah markas Pasukan Setan.
Serangan
besar-besaran itu meninggalkan dendam yang mendalam baik kepada pihak
Belanda maupun kepada rakyat yang berkhianat membantu Belanda.
Sementara itu Pak Kartem sendiri, sebagai salah saksi hidup perjuangan
M.A. Sentot di Desa Kujang, yang semula berminat menjadi tentara, tak
jadi memenuhi keinginannya sebab tidak direstui orang tuanya. Meskipun
demikian, beliau membantu Pasukan Setan dengan posisi sipilnya. Kartem
dan seluruh isi kampung Waledan dan Kujang pernah mengungsi ke hutan
bakau (jenis Api-Api) ketika kedua kampung itu diserang Belanda dari
semua jurusan: darat, laut, dan udara. Meskipun pemboman dari udara
dilakukan dan tembakan meriam dari laut diarahkan terhadap kedua
kampung itu, banyak penduduk yang mampu menyelamatkan diri (sebagian di
antara yang tertembak meninggal di tempat).
Menurut
Kartem, kemampuan menyelamatkan diri itu mereka peroleh berkat latihan
yang intensif. Sebelum Pasukan Setan pimpinan M.A. Sentot menjadikan
kedua kampung tersebut sebagai markasnya, para penduduk sudah dilatih
menghadapi situasi perang. Pelatih mereka adalah penduduk mereka
sendiri yang ketika zaman pendudukan Jepang menjadi tentara yang
dilatih oleh para tentara Jepang.
Kampung Waledan dan Kujang, selama
pasukan setan pimpinan M.A. Sentot bermarkas di situ, sangat tidak aman
dari serangan tentara Belanda dan para anggota mata-matanya. Baik siang
maupun malam, penjagaan diperketat untuk menghindari masuknya pasukan
Belanda dan mata-matanya. Dalam soal penjagaan ini, ronda atau jaga
malam digiatkan. M.A. Sentot, menurut pak Kartem, tak segan-segan
menempeleng para penjaga yang kedapatan tertidur. Pak Kartem sendiri,
sebagai pemuda di kampung tersebut, setiap malam berjaga malam.
Untuk mengenang pertempuan di kampung Waledan dan Kujang, di tempat itu, kini Cantigi, didirikan monumen bernama Monumen Kujang. Monumen didirikan semasa Indramayu berada di bawah pimpinan Bupati Irianto MS Syafiuddin.
Monumen tersebut secara umum berbentuk segi empat dengan tujuh tingkatan. Secara keseluruhan dilapis keramik berwarna putih. Di bagian paling atas terdapat senjata berupa kujang. Foto M.A. Sentot dipajang di bagian depan monumen tersebut sehingga bagi para pecinta sejarah sangat mudah mengenalinya sebagai komandan Pasukan Setan.
Namun, di balik kegagahan monumen yang terjaga secara baik itu, terselip pula kisah pilu pak Kartem sebagai saksi mata sekaligus pejuang yang membantu pasukan setan. Karena keluguannya, beberapa kali pak Kartem ditipu orang (mantan anggota pasukan Sentot). Jutaan rupiah sudah dikeluarkannya untuk memperoleh pensiun sebagai veteran. Betapapun dana telah ke luar, pak Kartem tak pernah memperoleh uang pensiun sebagai veteran, meskipun baju seragam sebagai veteran dapat diperolehnya.
Kisah sedikit lucu juga terdapat di balik monumen itu, khususnya di kalangan para remaja di kampung tersebut. Mereka sangat mengidolakan kehebatan perjuangan para gerilyawan di kampung itu. Sayang sekali, mereka tak banyak mengenal nama sejarah para pejuang yang bermarkas di kampungnya sehingga foto M.A. Sentot lebih mereka kenal dengan nama Marsheed. Para remaja kampung Kujang sangat mengidolakan Marsheed sehingga di tembok-tembok tempat mereka kongkow-kongkow digambari lukisan Marsheed. Padahal, menurut keterangan pak Kartem, Marsheed merupakan salah satu algojo pasukan setan yang dikenal tak kenal kompromi dalam membunuh lawan-lawannya, termasuk menghabisi para pengkhianat yang tidak setia kepada perjuangan kaum gerilyawan.
Meninggalkan Markas Waledan dan Kujang
Betapapun dendam sangat membara di hati para gerilyawan, namun perang tidak bisa dilakukan secara emosional saja. Perang memerlukan taktik, strategi, dan sekian banyak perhitungan jitu. Seusai serangan besar-besaran itu, pada malam harinya, M.A. Sentot memerintahkan seluruh pasukan gerilyawan meninggalkan markas Pasukan Setan di Waledan dan Kujang. Bagaimanapun pasukan harus mengikuti instruksi dari pucuk pimpinannya. Setelah perundingan, seluruh anggota Pasukan Setan pun melakukan hijrah sesuai isi perintah komandan.
Malam itu, meskipun hujan cukup deras semua pasukan bergerak menuju desa Tugu. Namun karena hujan cukup lebat, maka gerak maju pasukan hanya sampai di desa Waru. Barulah keesokan harinya, 9 Desember 1947, pasukan M.A. Sentot bergerak menuju desa Jatisura Kecamatan Lelea untuk mengatur rencana-rencana selanjutnya. Pengubahan siasat dilakukan, sebab di desa Jatisura sendiri sudah ada pasukan gerilya yang dipimpin oleh Kapten Sumo yang siap-siaga untuk menghadapi kemungkinan datangnya pasukan Belanda dari daerah Terisi. Akhirnya diputuskan bahwa pasukan pimpinan M.A. Sentot mengisi daerah yang masih kosong yaitu di Desa Sukamulya yang diperlukan untuk menghadapi datangnya pasukan tentara Belanda dari arah Jatibarang dan Jatitujuh.

Pada posisi di desa Sukamulya ini pasukan M.A. Sentot tetap melakukan gangguan dan penghadangan terhadap patroli polisi Belanda. Namun sayang sekali, dalam sebuah penghadangan di desa Tugu, justru salah seorang anggota pasukan pimpinan M.A. Sentot ditawan oleh pihak Belanda.
Kehebatan kelompok-kelompok gerilyawan di Indramayu telah membuka mata masyarakat bahwa pasukan Indonesia memang kuat keberadaannya. Belanda pun dipaksa harus membuat banyak rencana baru untuk menghadapinya. Pada saat itulah datang kurir dari pimpinan gerilya di wilayah III, yaitu Letnan Kolonel Abimanyu yang menyatakan bahwa Indramayu ditetapkan sebagai Komando Daerah Gerilya VI yang dipimpin oleh Mayor Sangun, dan Mayor M.A. Sentot.
Terpancing Propaganda Belanda
Di akhir tahun 1947, menjelang 1 Januari 1948, pihak Belanda mengubah taktik pertempuran. Kali ini mereka menggunakan siasat perang urat syaraf (psy war). Tentara-tentara Belanda menggunakan tipu muslihat dengan menyebarkan surat-surat kaleng, desas-desus, selebaran gelap, dan penyebaran dokumen rahasia. Isi yang tersebar adalah bahwa Belanda akan mengakui 100% kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 1 Januari 1948. Lemahnya intellijen di kalangan gerilyawan menyebabkan rakyat terhasut oleh informasi menyesatkan ini. Tidak hanya rakyat, bahkan banyak anggota pasukan gerilyawan yang mengadakan pesta kemenangan berama rakyat untuk menyambut datangnya 1 Januari 1948 hingga larut malam.
Apa yang terjadi kemudian? Pasukan gerilya hampir kecolongan. Untunglah sekitar jam 05.00 segera datang laporan dari Pos Pengawas bahwa pasukan Belanda yang datang dari Jatibarang sudah berada di kampung Kerticala. Posisi pasukan Belanda yang sangat dekat dengan markas komando gerilya pasukan M.A. Sentot ini membuat para gerilyawan yang sedang kelelahan sehabis berpesta segera mengungsi ke pinggir-pinggir hutan. Kegesitan untuk mengungsi itu menyebabkan tidak terjadinya kontak senjata antara pasukan gerilyawan dan tentara Belanda karena tak satupun pasukan gerilya yang berhasil mereka temukan.
Ketika cuaca mulai terang, sebenarnya M.A. Sentot dan kawan-kawan akan segera menyerang kedudukan tentara Belanda. Namun niat itu tidak dilaksanakan sebab tiba-tiba pesawat pemburu Mustang Belanda berputar-putar di atas udara desa Sukamulya. Daripada menyerang yang bisa berakibat fatal, pasukan M.A. Sentot akhirnya berpindah posisi ke kampung Telagadua.
Awal Clash dengan Hisbullah
Sementara itu, kondisi pertempuran kian rumit. Keberadaan pasukan gerilyawan di desa Jatisura, Sukamulya, dan Telagadua bukan tanpa kendala. Pada pertengahan Januari 1948 ke markas gerilya pimpinan Kapten Satmoko datanglah seorang tamu bernama Hamid. Rupanya orang ini merupakan mata-mata pasukan Hizbulloh. Setelah itu malam harinya terjadilah penculikan di markas komando gerilya V. Pasukan Hizbulloh dikabarkan menculik Mayor Sangun, Letnah Sutejo, Achmad, dan Sudibyo. Sementara itu Kapten Satmoko berhasil meloloskan diri dalam penyergapan itu.
Inilah awal clash pasukan M.A. Sentot dengan pasukan Hizbulloh. Setelah penculikan itu, tiga tawanan mereka Letnah Sutejo, Achmad, dan Sudibyo dibunuh. Mayat ketiganya dibuang ke sungai Cimanuk. Dalam situasi seperti itu M.A. Sentot menerima laporan dari rakyat yang menyatakan bahwa tentara Belanda datang menyerang dari desa Sumber dengan tanpa berpakaian. Setelah laporan itu diperiksa, ternyata yang datang menyerang adalah pasukan Hizbulloh pimpinan Danu. M.A. Sentot yang menganggap pasukan Hizbulloh merupakan teman seperjuangan, sebab mereka sama-sama melawan Belanda, tidak merasa curiga atas kedatangan mereka.
Ternyata perhitungan M.A. Sentot meleset. Pasukan Hizbulloh menyerang pasukan M.A. Sentot yang bermarkas di desa Telagadua dari tiga jurusan. M.A. Sentot yang belum memahami persoalan itu seutuhnya segera memerintahkan pasukannya untuk mengundurkan diri ke hutan dan tidak memberikan tembakan balasan.
Sambil mengundurkan diri ke hutan, salah seorang dari pihak M.A. Sentot, yaitu Kapten Surya mengadakan kontak dengan pimpinan Hizbulloh, Danu. Dari kontak itulah diketahui bahwa pasukan Hizbulloh telah salah memilih sasaran. Mereka sedang mencari-cari pasukan gerilya pimpinan Letnan Purbadi yang telah berselisih dengan mereka untuk diminta pertanggungjawabannya. Mereka mengira bahwa anggota gerilya pimpinan M.A. Sentot merupakan anggota gerilyanya pimpinan Letnan Purbadi. Untuk menghindarkan diri dari pertempuran dengan sesama bangsa Indonesia, M.A. Sentot segera memindahkan pasukannya ke kampung Cimindel.
Dalam situasi gawat seperti itu datang perintah dari Letnan Kolonel Abimanyu agar semua pasukan diberangkatkan ke Majalengka, dan ditugaskan untuk menumpas pasukan Hizbulloh yang sudah merajalela. Pasukan Hizbulloh yang terkepung akhirnya meloloskan diri satu per satu. Pasukan pimpinan M.A. Sentot diberi tugas ke desa Asrama di sekitar Indrakila. Di daerah itu pun pasukan Hizbulloh telah menghilang. Pada saat itu, Mayor Sangun telah dibebaskan oleh pasukan gerilyawan yang dipimpin Letnan Emen Slamat. Selanjutnya para pasukan gerilya ini berpindah ke Majalengka.
Hijrah ke Yogyakarta
Perjanjian Renville ditandatangani oleh wakil pimpinan Republik Indonesia dan wakil Belanda. Berdasarkan isi perjanjian ini, maka seluruh gerilyawan harus meninggalkan kantong-kantong gerilya. Sebagai pasukan yang setia pada perintah pimpinan, maka para prajurit yang ada di kantong-kantong gerilya di Indramayu berjalan kaki pindah ke Majalengka. Mereka harus melalui desa Ujungjaya, kemudian berkumpul di desa Ciwaru. Di tempat inilah setelah berjalan kaki selama tiga hari tiga malam pasukan gerilya dari seluruh Karesidenan Cirebon berkumpul.
Setelah beristirahat selama beberapa hari, pimpinan Brigade V, melalui Kepala Staff-nya yaitu Mayor Kusno Utomo, memerintahkan agar semua pasukan berkumpul di Kuningan. Tempat ini merupakan tempat terakhir di mana seluruh pasukan akan diberangkatkan menggunakan kereta api menuju Gombong, Jawa Tengah. Dari kota ini pasukan melanjutkan perjalanan menuju Ketandan/Klaten. Dari situ mereka melanjutkan perlajanan ke Colomadu, dan berakhir di Tasikmadu.
Di daerah Tasikmadu inilah pasukan yang berasal dari Karsidenan Cirebon mengalami reformasi dan reorganisasi. Pasukan M.A. Sentot sendiri yang semula berada dibawah Bataylon V, kini ditempatkan di Batalyon I Resimen 12 Divisi IV Siliwangi, di bawah pimpinan Mayor U. Rukman yang membawahi para prajurit dengan susunan komandan sebagai berikut: Dan Kie I adalah Kapten M.A. Sentot, Dan Kie II adalah Kapten Mahmud Pasja, Dan Kie III adalah Kapten Mustofa, dan Dan Kie IV adalah Kapten A. Syukur. Sementara itu Kompi I membawahi beberapa Peleton yang terdiri dari: Peleton I dengan komandannya Letda Hasanuddin, Kompi II dengan komandannya Letda Nasuha, dan Peleton III dengan komandannya Letda Sudimantoro.
Kondisi para prajurit Divisi Siliwangi yang berasal dari Karesidenan Cirebon, selama berada di Jawa Tengah, memiliki banyak pengalaman yang tak terduga. Ternyata, hijrah ke wilayah lain provinsi tidaklah selalu menyenangkan. Saat itu, mereka banyak menerima kenyataan bahwa perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan yang belum lama diproklamasikan tidaklah mudah. Betapa tidak, pasukan yang seharusnya berada di kantong-kantong gerilya untuk mempertahankan kedudukan wilayah Republik Indonesia, ternyata harus hijrah ke wilayah lain.
Perubahan situasi dan kondisi yang mereka alami, yaitu suasana di kantong gerilya dan di pengungsian, jelas mencolok. Suka, duka, bahkan penderitaan batin dialami oleh para prajurit Batalyon Rukman selama mereka menempati Pabrik Gula di Tasikmadu, Jawa Tengah. Di tempat hijrah tersebut para prajurit Batalyon Rukman memahami bahwa perubahan suhu politik di Indonesia sedang terjadi. Perubahan politik ini tidak sedikit yang berdampak pada situasi dan kondisi di tubuh militer Indonesia.
Kondisi kehidupan politik yang sedang berubah itu sangat wajar jika berdampak pada para prajurit Batalyon Rukman. Mungkin di balik semua itu, pihak kerajaan Belanda memiliki skenario khusus untuk menghancurkan, setidaknya melemahkan kondisi militer Indonesia. Ketika para prajurit berkumpul di Jawa Tengah dan Yogyakarta, sangat mudah bagi pihak tertentu menyebarkan isu fitnah, propaganda, provokasi, dan selebaran gelap yang melemahkan mental prajurit. Cara Belanda mengadu domba antar unsur di kalangan masyarakat dalam tubuh Repubik Indonesia yang masih berusia dini itu bukan tidak disadari para prajurit Batalyon Rukman. Prajurit bisa diadu domba dengan prajurit. Bahkan ada pula upaya fitnah yang ujung-ujungnya mengadu domba prajurit dengan rakyat biasa.
Pamflet-pamflet dan selebaran gelap begitu mudahnya masuk dan beredar di kalangan prajurit dan rakyat sipil. Kalimat seperti ’dari Gunung Tidar’, ’dari Markas Murba Terpendam’ dan yang lainnya menjadi begitu akrab terdengar. Isinya memang propaganda politik. Selain itu penyebaran isu yang bertujuan melemahkan mental prajurit pun tak kalah hebatnya. Misalnya isu tentang tertawan dan kemudian meninggalnya Panglima Besar Sudirman. Isu tentang adanya persetujuan dari Jenderal Sudirman terhadap suatu Kongres Rakyat. Isu tentang prajurit yang pro dan anti pembentukan negara Indonesia sebagai negara federal. Isu tentang prajurit yang setuju dan anti perundingan dengan Belanda.
Pendek kata, isu politik dalam negeri semakin memanas karena berpadu dengan intrik-intrik tekanan Diplomatik dari pihak Belanda. Di jajaran para elite politik Indonesia sendiri, saat itu, sentimen kepartaian begitu mudah terluap. Kondisi perbedaan paham yang mencolok di antara partai-partai ini memungkinkan sangat mudahnya perpecahan di tubuh para petinggi Indonesia.
Bagi para prajurit Batalyon Rukman yang berasal dari Karesidenan Cirebon tentu saja tidak mudah untuk menyesuaikan diri dengan suasana yang sedang berubah cepat. Ulah para petualang politik pun menimbulkan masalah di tubuh militer. Karena propaganda tertentu, misalnya, para prajurit Batalyon Rukman pernah mengalami clash dengan para prajurit dari Resimen Lawu. Clash itu memanas sampai-sampai para prajurit Batalyon rukman pernah diserang oleh para prajurit lain dari tiga Batalyon di bawah Resimen Lawu.
Bentrokan bersenjata ini dihadapi secara serius oleh para prajurit yang tergabung dalam Kie I (pimpinan M.A. Sentot), Kie II, dan Kie IV. Akibatnya jatuh korban jiwa sia-sia tak terelakan. Para prajurit Resimen Lawu kemudian mengundurkan diri ke Karanganyar. Untuk meredakan ketegangan dan menjernihkan suasana, Bupati Karanganyar terpaksa turun tangan. Namun upaya Bupati ini mampu menghasilkan keputusan maksimal. Dengan pertimbangan untuk menghindarkan diri dari perang saudara antar sesama prajurit Indonesia, ditambah dengan situasi politik dalam negeri yang semakin memanas, maka diambil keputusan oleh Kemandan Batalyon, U. Rukman, untuk memulangkan seluruh prajurit Siliwangi kembali ke Jawa Barat, dan langsung menempati kantong-kantong gerilya.
Sumber : Majalah Mulia Harja Indramayu
http://indramayutradisi.blogspot.com/2012/06/sejarah-perjuangan-ma-sentot-indramayu.html
Kemana Harus Kutapaki?
Author: Unknown /Sore ini gerimis menyapa
matahari dengan berjubah jingga
berkarpet hitam pekat diatas awan
Disini...
hanya bisa diam dan menatapmu
dari balik jendela jiwa
Malam ini...
malam yang kan menyakitkan
jutaan butir air tidak akan mampu meredam panas dihati
penuh penolakan !
batin berubah menjadi sosok yang tidak dikenal
Bulan...
hanya dapat merunduk menatapku
dengan cahayanya meredup
coba menyelinap dari sela-sela jendela
Bintang...
bersembunyi dibalik awan
masih takut dengan api dihati
Ya Allah...
Kemana harus kutapaki jalan hidupku?
dari lahir hingga sekarangpun
masih dijejali dengan rasa bernama prihatin
dengan bumbu yang bernama "harus terima keadaan"
saudara...
saudari...
dimana kalian berada?
mata hanya bisa melihat sosokmu
tapi tidak dengan kasih sayangmu
Ya Allah...
Kemana harus kutapaki?
dunia ini terlalu ganas untuk ku rasakan
sekarang...
Hanya bisa merasakan semua
tertunduk dengan air mata
yang jatuh perlahan melalui ujung-ujung bulu mata
Cipta : Zam-zam Abdul Faqih
SALAM UNTUKMU
Author: Unknown /Seribu...
Dua Ribu...
AH !!!tak dapat kuhitung masa indah bersama kalian...
dibalik kaca kamar,
hanya menyisakan embun memori
pengap bercampur debu
kita menari bersama diruang penuh canda dan tawa
sekarang...
kita akan segera singsingkan baju
hingga melebihi siku
bersiap lari mengejar...
apa yang di cita-citakan
Kawan...
kalian seperti saudara kandungku
bahu membahu kita bangun
bangun sebuah rasa yang tidak pernah bisa terlupakan
kubersandar pada dinding kelas...
menatap satu persatu kawan seperjuanganku
beramai kita membuat dosa
dosa membagikan jawaban soal yang belum tentu benar
ku tatap...
selalu ku tatap
gerakan demi gerakan
terekam jelas didalam memori
berpose,akting,kejutan,dan masih banyak sekali yang tercipta didalam ruangan
salam untukmu
salam untuk semua
yang telah hadir,menghiasi perjalanan hari
langkahku...
langkahmu...
langkah kita semua
akan berpisah pada satu jepretan kamera
tapi hati,perasaan,kenangan,dan semua yang pernah tercipta
akan seperti sebuah foto,yang selalu dikenang hingga akhir hayat
Created by: Zam-zam Abdul Faqih
RAS INDONESIA ADALAH RAS YANG PALING SEMPURNA
Author: Unknown /Ras Indonesia kami menyebutnya dengan demikian. Ras ini terdiri
dari seluruh suku yang ada di Indonesia seperti Jawa, Sunda, Minang,
Melayu, Dayak, Bugis, Bali, Sasak,
Papua dan sebagainya. Seluruh suku ini rata-rata memiliki persamaan
fisik yaitu kulit sawo matang, ukuran tubuh kecil, hidung kecil dan
rambut hitam.





